Tim EC menuturkan bahwa lomba Hackaton yang berlangsung 2 hari tersebut telah memberikan banyak pelajaran, yaitu ilmu tentang dunia makers, semangat juang, dan kerja dalam tim. Acara tersebut juga dihadiri antara lain CEO Mediatrack, Big Data, Data Scient Indonesia, Makedonia, dan Vilipe makers asal India. Dengan tema yang telah ditentukan, Sci-Fi (Science-Fiction), tim EC membuat alat “Spazio Esterno Agricoltori”. Alat tersebut mengusung konsep seperti film Wall-e dan merealisasikan imajinasi. “Sesuai tema, kami mencoba menuangkan imajinasi dalam alat. Kami mengkondisikan jika Bumi diprediksi bakal gak bisa ditinggali maka manusia membuat robot yang bisa menanam pohon di planet lain yang mirip Bumi sehingga layak dihuni,” ujar Ikhsan.
“Spazio Esterno Agricoltori” dibuat dengan beberapa komponen, yaitu Arduino, raspberry-pi, router, sensor cahaya, sensor suhu dan kelembaban, powerbank, dan baterai. Prinsip kerjanya seperti Line Follower. Alat tersebut bekerja dengan mengikuti cahaya, saat berada di tempat yang terang akan berhenti. Dilengkapi dengan dua mode, otomatis dan manual dan sensor kelembahan serta suhu. Mode manual dikendalikan melalui internet selanjutnya indikatornya ditampilkan di LCD 16×2. Kemenangan tersebut tidak membuat Tim EC lantas puas, “Kemenangan di Hackathon kemarin merupakan awal kebangkitan bagi EC sendiri, mengingat sudah dua tahun terakhir kami vacuum dengan raihan juara. Ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus berkarya dan lebih baik. Semoga tahun depan EC bisa lebih meningkat prestasinya, di ajang Hackathon bukan hanya juara Best Concept tapi juga bisa memboyong juara Ultimate,” tegas Agung Rahadyan yang juga merupakan ketua EC, dirinya juga menambahkan bahwa sebagai mahasiswa jangan hanya terfokus pada pelajaran kuliah tapi juga mencoba hal-hal baru dan riset. (snv)